ceritara ceritaku


tertutup sudah
pintu hatiku
yang dulu dibuka hanya untukmu
namun kau membisu seribu makna
apalah erti hidup ini
bagai siang tanpa sinar matahari
bagai malam tanpa rembulan
aku di sini tegar bersendiri
namun kau di sana masih meniti bahagia
ku cari damai yang hilang
masih menanti tak kunjung tiba
tegarnya dirimu melupakan aku
seolah-olah kita tidak pernah bersua
benar kata cicak
bila gembira usah dicari rakan-rakan
pasti muncul dengan sendirinya
bila bersedih
boleh dibilang dengan jari akan kehadiran teman-teman
kehilangan memang bisa membunuh
andai tiada pedoman
kehilangan yang ku tangisi sendirian
melihat diriku tidaklah setabah ibuku
tanpa linangan air mata
dan sedangkan aku tanpa henti bercucuran air mata
membisu kaku melihat sekujur tubuh yang sudah tidak bernyawa
meniti hari suram sendirian
mana perginya engkau
entah kemana
tiada ku pasti
saat bersedih kehilangan nenda menyahut illahi
engkau pula mengkhianati aku
ditinggalkannya aku terkontang kanting
di mana aku masih belum bersedia untuk menerima kehilangan yang kedua
bagai panah menusuk ke luluh hati
memujuk diriku sendiri
layakkah aku untuk membenci dirimu
anugerah allah buat diriku untuk menerima dua kehilangan yang serentak
ini yang membuatkan aku bisa berdiri utuh
anugerah yang tidak ternilai ini banyak mengajar aku erti hidup
hidup memang tidak seindah yang kita sangka
kamu yang terindah yang pernah aku ada
walau hari ditelan masa
yang indah itu masih lagi bersamaku
bersyukur aku terhadap illahi dengan ujiannya
kerna ia mengajar aku erti ditolak
bersangkal baiklah kau walau itu bukan yang terbaik untuk kau
semuanya mempunyai seribu satu sebab
yang tidak kita perlu ketahui
terima kasih kawan serta kekasih

Comments

Post a Comment